Pertama kali membaca Cantik itu Luka (namun tidak selesai karena dipinjam sama teman), akhirnya tak bisa ku mungkiri aku jatuh cinta pada Eka Kurniawan. eh bukan Ekanya tapi hasil buah tangannya yang luar biasa. tak lama kemudian aku memutuskan membeli bukunya yang lain di Gramedia-Mall Panakkukang Makassar yang judulnya Lelaki Harimau dan mendapati dua macam cover baru. namun aku membeli cover baru yang lama sebab lebih murah walau tak seberapa. tapi lebih tetap lebih, beda tetap berbeda.
Di tengah kesibukan tiada tara walau seakan tak berguna. aku menyelesaikan membaca "Lelaki Harimau" itu. dan itu membikin aku memunculkan niat berguru kepenulisan pada eka kurniawan. meskipun itu hanya pada buku - bukunya dan sekali dua kali waktu aku pun sering membuka website journalnya di ekakurniwana.com.
Selanjutnya aku berfikir untuk mereview buku-bukunya sekaligus belajar bagaimana menjadi penulis dan tentu saja aku akan mereview buku yang pertama aku selesaikan dari eka kurniawan iaitu Lelaki Harimau.
Mula pertamanya membaca, kita akan dikejutkan dengan tragedi pembunuhan kejam lagi tiada biasa terjadi hingga membikin warga terheran-heran bagai muncul tanda tanya besar di kepala meraka, bahkan Kyai Jahro dan Mayor sadra yang diberitahukan oleh Ma Soma, guru mengaji di surau soal pembunuhan itu seolah tak percaya dan hanya menganggapnya sebuah lelucon.
Tragedi pembunuhan Anwar sadat yang sangat kejam dengan leher tercabik-cabik oleh gigitan sengat Margio bahkan membuat Mayor sadrah tak percaya betul Margio akan demikian, sebab nyatanya ia mengenal dan tahu betul Margio adalah bocah yang pemurung, namun manis dan lakunya santun. meskipun ia tahu Margio itu sangat membenci ayahnya sejak lama, pun ia tidak pernah melihatnya ingin membunuh ayahnya.
singkatnya, saat Margio di introgasi tentang pembunuhan tersebut lantas ia dengan tanggap menjawab "bukan aku yang melakukannya," ungkapnya dan melanjutkan, "ada harimau di dalam tubuhku."
Eka kurniawan dengan gaya kepenulisan apik melalui alur mundur-maju, maju-mundur bagiku meskipun secara umum maju-mundur sehingga terkadang aku tak bisa menangkap maksudnya dan memaksaku kembali ke halaman-halaman berikutnya.
Membaca buku ini, awalnya aku dibuat terheran-heran sehinga terus membikin aku penasaran ternyata di balik pembunuhan tersebut terlepas dari ada harimau dalam tubuh si pelaku (Margio). sejak kecil memang margio hidup ditengah-tengah keluarga yang membuatnya muak, terlebih pada ayahnya yang maha kejam, benih-benih dendam, amarah bahkan sempat berniat menggorok lehernya hingga nyawanya melayang. namun dilain sisi ia tetap teguh dan sesekali merasa iba juga pada ayahnya hingga pembunuhan ayahnya tak pernah terjadi.
sepanjang membaca buku ini, aku juga terkadang senyum-senyum sendiri dibalik cerita lelucon yang mungkin sengaja diselipkan dan memang setahuku penulisnya juga suka humor.
dendam membara sejak ia kecil hingga menjelma pemuda pemburu babi andalan mayor sadrah sang veteran. selain itu ibu yang ia cintai ternyata selingkuh dan melahirkan anak dari buhaian dari lelaki selain ayahnya sekaligus hubungan asmara margio dengan Maharani yang akhirnya tak mungkin saling mencintai. hingga pada akhirnya kita akan tahu asal-muasal pembunuhan atas nama harimau itu kita akan tahu pada akhir-akhir cerita.
Bagiku, bila boleh berpendapat dan menyimpulkan. lelaki harimau pada buku tersebut bukan hanya ada dalam diri Tokoh Margio, namu pada diri Komar Bin Syueb dan Anwar sadat bersarang harimau-harimau penuh nafsu berahi.
Oleh: Dedi Mr
Makassar, 11 Februari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar